Tanda-tanda Anak Menjadi Korban Bullying di Sekolah

Banyak kasus di mana anak korban bullying memilih diam dan menyembunyikan fakta bahwa ia sering menjadi korban perundungan. Hanya sekitar ¼ dari korban mau berterus terang pada orangtua, dan sisanya hanya akan terkuak setelah orangtua menyadari tanda-tanda anak menjadi korban bullying di sekolah.

 

SehatQ.com
SehatQ.com

baca juga artikel lain di : https://renaoktriyani.blog.institutpendidikan.ac.id/

Dikutip dari situs SehatQ.com, banyak alasan mengapa anak merahasiakan perihal menjadi korban bullying. Orangtua harus waspada pada tanda-tanda anak menjadi korban bullying di sekolah sebagai berikut:

  • Tanda luka atau memar yang muncul tanpa sebab
  • Tidak banyak teman di sekolah
  • Anak malas sekolah
  • Sering mengeluh sakit kepala atau sakit perut
  • Meminta atau mencuri uang (untuk memenuhi permintaan bully)
  • Sering moody atau tidak bisa ditebak perasaan hatinya
  • Performa akademis yang menurun

Jika Anda mulai mencurigai anak Anda sebagai korban bullying di sekolah, cari waktu yang tepat untuk menanyakannya. Patricia Agatston, PhD dari International Bullying Prevention Association menganjurkan pertanyaan tidak langsung seperti, “Kamu pernah tidak melihat teman kamu diperlakukan dengan tidak baik?” untuk memulai. Jika mereka menjawab ya, maka coba tanyakan apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu korban.

Agatston juga menghimbau agar orangtua tidak menyuruh anak melawan. Sebaliknya, tanamkan keberanian agar mereka bisa dengan tegas berkata tidak atau menyuruh pelaku berhenti, atau ajarkan mereka untuk meninggalkan situasi dan melaporkan kepada orang dewasa seperti guru di sekolah.

Menghadapi Cyberbullying dan Bullying sebagai Orangtua

Orangtua tidak perlu hanya berpangku tangan jika melihat tanda-tanda anak menjadi korban bullying di sekolah. Gunakan tips ini untuk membantu anak mengatasi masalah mereka:

  • Kumpulkan bukti. Orangtua bisa turut mencatat insiden, termasuk tanggal, tempat, nama pelaku dan nama saksi yang turut hadir. Jika kasusnya bersifat online, segera simpan bukti dari gadget sebelum dihapus.
  • Cek ke sekolah. Periksa kembali kebijakan sekolah dalam kasus bullying, minta audiensi formal dengan pihak sekolah dan bawa bukti untuk membuat kasus Anda lebih solid. Tanya apa langkah-langkah yang akan dilakukan sekolah untuk mengamankan potensi-potensi bullying.
  • Jangan konfrontasi pelaku langsung. Strategi ini sering malah tidak efektif karena Anda berarti menjadi pelaku bully yang bisa memicu perselisihan tiada akhir dengan keluarga pelaku.
  • Pertimbangkan mengganti atau pindah sekolah. Jika sekolah gagal dan tidak bisa memberikan antisipasi terhadap kasus bullying, maka pindah sekolah bisa jadi keputusan yang terbaik. Anak bisa lebih aman dan selalu ada kemungkinan lingkungan sekolah baru yang lebih sehat dan positif.
  • Terus menjalin komunikasi dengan anak. Jangan pernah berhenti memeriksa kondisi anak, beritahu bahwa Anda selalu ada dan mendukungnya supaya dia mau mengeluarkan seluruh uneg-unegnya. Ajak anak berjalan-jalan dan jauhkan dari gawai atau dunia internet.

Ingat, ambil tindakan jika Anda melihat tanda-tanda anak menjadi korban bullying di sekolah. Jangan menunda tindakan ini demi keselamatan dan kesehatan mental anak Anda.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*