Farmakologi Obat Cacing

BAB 1

 

PENDAHULUAN

 

 

  1. Latar Belakang

 

Cacingan masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Prevalensi penyakit cacingan berkisar 60% – 90% tergantung lokasi higienis, sanitasi peribadi dan lingkungan penderita. Tingginya prevalensi ini disebabkan oleh iklim tropis dan kelembaban udara yang tinggi di Indonesia. Lokasi yang tidak higienis dan sanitasi yang rendah menjadi lingkungan yang baik untuk perkembangan cacing. Beberapa daerah di Indonesia terutama di daerah pedalaman belum semua mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak, kasus infeksi cacing yang kronik banyak ditemukan di daerah pedalaman yang secara latar belakang pengetahuan kesehatan dan pendidikan rendah.

Infeksi cacing ini Apabila dicermati lebih lanjut pengaruhnya bisa sangat mengganggu, terutama pada anak-anak yang dalam masa pertumbuhan, infeksi ringannya, dapat mengakibatkan anemia dengan berbagai manifestasi kilinis, baik yang terlihat secara nyata maupun yang tidak terlihat. Kasus infeksi yang sedang sampai berat bisa mengakhibatkan adanya gangguan penyerapan pada usus dan gangguan beberapa fungsi organ dalam. Gangguan yan ditimbulkan mulai dari yang ringan tanpa gejala hingga sampai yang berat bahkan sampai mengancam jiwa. Secara umum gangguan nutrisi atau anmeia dapat terjadi pada penderita. Hal ini secara tidak langsung akan mengakibatkan gangguan kecerdasan pada anak.Karena itu, cacingan masih menjadi masalah kesehatan mendasar di negeri ini.

Berkaitan dengan hal tersebut, diperlukan suatu upaya bersama dan juga kesadaran dalam menanggulangi penyakit ini. Salah satunya dengan Penggunaan antihelmintik atau obat anti cacing yang merupakan salah satu upaya penanggulangan infeksi cacingan. Sebagian besar antihelmintik efektif terhadap satu macam jenis cacing, sehingga diperlukan diagnosis yang tepat sebelum menggunakan obat tertentu. pemberian antihelmintik haruslah mengikut indikasi-

 

 

indikasi tertentu. Untuk mengobati cacingan, banyak obat anti cacing diberikan yang bertujuan untuk mengeluarkan cacing segera bersama tinja hanya dalam dosis sekali minum. Obat anti-cacing yang dipilih harus diperhatikan benar karena tidak semuanya cocok pada anak maupun orang dewasa. Pemberian obat anti cacing tanpa dasar justru akan merugikan penderita yang mana akan memperberat kerja hati. Diagnosis harus dilakukan dengan menemukan telur/larva dalam tinja, urin, sputum dan darah atau keluarnya cacing dewasa melalui anus,mulut atau lainnya. Maka dari itu penggunaan antihelmintik sangat diperlukan dalam memberantas dan mengurangi cacing dalam organ atau jaringan tubuh.

 

  1. Rumusan Masalah

 

Adapun masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah sebagai berikut :

 

  1. Apa pengertian cacingan ?

 

  1. Apa saja jenis-jenis cacing dan bagaimana cara penularannya ?

 

  1. Bagaimana gejala-gejala jika manusia mengalami cacingan ?

 

  1. Bagaimana cara pencegahan agar terhindar dari penyakit cacingan ?

 

  1. Apa saja macam-macam obat antihelminth ?

 

 

  1. Tujuan

 

Adapun tujuan dari makalah ini diharapkan dapat :

 

  1. Memahami dan mengerti apa yang dimaksud dengan penyakit cacingan.

 

  1. Mengetahui jenis-jenis cacing yang menyebabkan cacingan.

 

  1. Mengetahui gejala-gejala pada manusia jika mengidap penyakit cacingan.

 

  1. Mengetahui cara pencegahan untuk menghindari penyakit cacingan.

 

  1. Macam-macam obat antihelminth beserta indikasinya

 

 

  1. Manfaat

 

Adapun manfaat dari makalah ini diantaranya :

 

  1. Data dan informasi mengenai obat antihelmintik dapat menjadi masukan bagi penderita agar menggunakan obat antihelmintik sesuai dengan indikasi-indikasinya.

 

 

BAB II

 

PEMBAHASAN

 

 

  1. Pengertian

 

Infeksi cacing atau biasa disebut dengan penyakit cacingan termasuk dalam infeksi yang di sebabkan oleh parasit. Parasit adalah mahluk kecil yang menyerang tubuh inangnya dengan cara menempelkan diri (baik di luar atau di dalam tubuh) dan mengambil nutrisi dari tubuh inangnya. Pada kasus cacingan, maka cacing tersebut dapat melemahkan tubuh inangnya dan menyebabkan gangguan kesehatan.

 

Cacingan biasanya terjadi karena kurangnya kesadaran akan kebersihan baik terhadap diri sendiri ataupun terhadap lingkungannya. Cacingan dapat menular melalui larva/telur yang tertelan & masuk ke dalam tubuh. Cacing merupakan hewan tidak bertulang yang berbentuk lonjong & panjang yang berawal dari telur/larva hingga berubah menjadi bentuk cacing dewasa. Cacing dapat menginfeksi bagian tubuh manapun yang ditinggalinya seperti pada kulit, otot, paru-paru, ataupun usus/saluran pencernaan. penyakit ini bisa menurunkan tingkat kesehatan. Di antaranya, menyebabkan anemia, IQ menurun, lemas tak bergairah, ngantuk, malas beraktivitas serta berat badan rendah.

 

  1. Jenis – jenis cacing

 

Cacing mempunyai tubuh yang simetrik bilateral dan tersusun banyak sel (multiseluler). Parasit cacing yang penting bagi manusia terdiri dari dua golongan besar yaitu filum Plathyhelminthes dan filum Nemathelminthes. Plathyhelminthes terdiri dari dua kelas, yaitu Cestoda dan Trematoda, sedangkan kelas Nematoda merupakan kelas yang penting dalam filum Nemathelminthes.

 

Plathyhelminthes mempunyai bentuk tubuh yang pipih seperti daun (Trematoda) atau berbentuk pita dengan banyak segmen (Cestoda). Sedangkan filum Nemathelminthes mempunyai bentuk tubuh yang silindris memanjang, tidak terbagi dalam segmen-segmen.

 

 

Cestoda termasuk cacing hermafrodit, maka alat kelamin jantan maupun betina terdapat bersama-sama dalam tubuh seekor cacing dewasa. Setiap segmen tubuh cacing memiliki alat reprosuksi yang sempurna. Trematoda umumnya juga bersifat hermafrodit (biseksual), kecuali Schistosoma, yang terpisah atas jantan dan betina (uniseksual). Nematoda mempunyai sistem reproduksi uniseksual (diecious). Cacing Nematoda ada yang vivipara (melahirkan larva) ada yang ovipar (bertelur) atau ovovivipar (larva keluar dari telur segera sesudah berada di luar tubuh induknya).Berikut ini adalah klasifikasi cacing dan penyakit yang dapat disebabkan oleh cacing :

 

Tabel 2.1 Klasifikasi cacing dan penyakit yang dapat disebabkan oleh cacing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cacing pada manusia pun ada banyak jenisnya. Adapun Nematoda usus yang

 

 

ada pada manusia diantaranya :

 

1.Ascaris lumbricoid es

 

2.Trichuri s trichiura (cacing cambuk)

 

3.Hook worm (cacing tambang)

 

  • Ancylostom a duodenale

 

  • Necator americanus

 

  1. Strongyloi des stercorali s

 

 

 

 

  1. Toxocara canis & Toxocara cati

 

  1. Oxyuris vermicularis (cacing kremi)

 

  1. Trichinella spiralis

 

 

1 . Cac ing Gelang ( As ca r is lu m br ico id es )

 

 

Cacing Ascaris lumbricoides merupakan cacing yang paling sering menginfeksi manusia. Cacing ini berwarna Merah muda atau putih. Besarnya sekitar 20 – 30 cm dan mampu bertelur 200.000 telur per-harinya. Cacing dewasa hidup di dalam usus manusia bagian atas, (Usus kecil) dan akan melepaskan telurnya di dalam kotoran manusia. Infeksi pada manusia terjadi

 

 

melalui jalan makanan yang tercemar oleh kotoran yang mengandung telur cacing. Cara Penularannya , Telur cacing masuk melalui mulut dan Menetas di usus kecil menjadi larva, Larva ini akan menembus dinding usus kemudian masuk ke aliran darah yang akhirnya sampai ke paru paru yang selanjutnya akan dibatukan keluar dan ditelan kembali ke usus. Kemudian akan menjadi dewasa di usus. Cacing gelang dapat mengisap 0,14 gr karbohidrat setiap hari. Penyakit yang timbul dari infeksi ini antara lain anemia, obstruksi saluran empedu, radang pankreas dan usus buntu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Cara penularan Cac ing Gelang .

 

 

2 . Cac ing Ca mbuk( Tri c u r is tr ic h iu r a )

 

 

Cacing cambuk tampak berwarna merah muda atau abu-abu dan bentuknya seperti cambuk. Besarnya sekitar 3 – 5 cm. Cacing betinanya bisa bertelur 5 ribu-10 ribu butir per-hari. Biasanya infeksi cacing ini menyerang pada usus besar. Dia menghisap darah dan hidup di dalam usus besar. Infeksinya sering menimbulkan perlukaan pada usus, karena kepala cacing dimasukkan ke dalam permukaan usus penderita. Cacing ini juga menghisap sari makanan yang dimakan oleh penderita.

 

 

Cara penularannya, telur cacing tertelan bersama dengan air atau makanan, kemudian menetas di usus kecil dan tinggal di usus besar ,selanjutnya telur cacing akan keluar melalui kotoran dan jika telur ini menetas, telur ini akan hidup sampai dewasa di dalam usus halus. Gejala yang timbul pada penderita cacing cambuk antara lain nyeri abdomen, diare dan usus buntu. Cara pencegahan sebenarnya cukup dengan yaitu menjaga kebersihan diri sendiri dan lingkungan terutama dalam penyajian makanan. Dalam membeli makanan, harus memastikan bahwa penjual makanan memperhatikan aspek kebersihan dalam mengolah makanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Siklus penularan Cac ing Ca mbuk .

 

3 . Cac ing Tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale)

 

Cacing tambang adalah cacing yang paling ganas, karena ia menghisap darah. Paling sering disebabkan oleh Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Cacing ini berwarna Merah dan besarnya sekitar 8 – 13 mm. Cacing betinanya bisa bertelur 15 ribu-20 ribu butir per-hari. Cacing dewasa bertahan hidup 2-10 tahun. Cacing dewasa tinggal di usus halus bagian atas, sedangkan telurnya akan dikeluarkan bersama dengan kotoran manusia. Penularannya cepat, karena larva cacing tambang sanggup menembus kulit kaki yang selajutnya akan terbawa oleh pembuluh darah ke dalam usus.

 

 

Cacing tambang ini menimbulkan perlukaan pada permukaan usus, sehingga perdarahan dapat terjadi secara lebih berat. Perdarahan yang lebih berat ini disebabkan karena mulut (stoma) cacing menancap pada permukaan usus. Bahkan satu ekor cacing saja dapat menyebabkan kehilangan darah sebanyak 0,005¬0,34 cc sehari. Mengingat itu semua, maka infeksi cacing tambang merupakan penyebab anemia yang paling sering ditemukan pada anak-anak, sehingga dapat mempengaruhi daya tubuhnya dan menurunkan prestasi belajar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Siklus Penularan Cac ing Tambang .

 

 

 

 

  1. Cacing Kremi (Enterobius Vermicularis)

 

 

Cacing yang sering menyerang anak kecil adalah Enterobius vermikularis . Cacing ini hidup di bagian akhir dari usus halus, di dekat usus besar. Cacing ini kecil sekali, yang betina panjangnya 8-10mm, yang jantan ± 5mm dengan ekor bengkok. Telurnya banyak, sampai 10.000. Bentuk telur panjang, sedikit cekung. Besarnya 20-45 mikron. Cacing ini mirip kelapa parut, kecil-kecil dan berwarna putih. Awalnya, cacing ini akan bersarang di usus besar. Saat dewasa, cacing kremi betina akan pindah ke anus untuk bertelur. Telur-telur ini yang menimbulkan rasa gatal. Bila balita menggaruk anus yang gatal, telur akan

 

 

pecah dan larva masuk ke dalam dubur. Saat digaruk, telur-telur ini bersembunyi di jari dan kuku, sebagian lagi menempel di sprei, bantal atau pakaian. Lewat kontak langsung, telur cacing menular ke orang lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Siklus penularan cacing kremi.

 

 

  1. Gejala penyakit cacingan Gejala Umum

 

Perut buncit, badan kurus, rambut seperti rambut jagung, lemas dan cepat lelah, muka pucat, serta mata belekan. sakit perut, diare berulang dan kembung, kolik yang tidak jelas dan berulang.

 

  1. Gejala Khusus
    1. Cacing Gelang

Sering kembung, mual, dan muntah-muntah. Kehilangan nafsu makan dibarengi diare, akibat ketidakberesan di saluran pencernaan. Pada kasus yang berat, penderita mengalami kekurangan gizi. Cacing gelang yang jumlahnya banyak, akan menggumpal dan berbentuk seperti bola, sehingga menyebabkan terjadinya sumbatan di saluran pencernaan.

 

  1. Cacing Cambuk

 

 

Dapat menimbulkan peradangan di sekitar tempat hidup si cacing, misalnya di membrane usus besar. Pada kondisi ringan, gejala tidak terlalu tampak. Tapi bila sudah parah dapat mengakibatkan diare berkepanjangan. Jika dibiarkan akan mengakibatkan pendarahan usus dan anemia. Peradangan bisa menimbulkan gangguan perut yang hebat, yang menyebabkan mual, muntah, dan perut kembung.

 

  1. Cacing Tambang

Cacing tambang menetas di luar tubuh manusia, larvanya masuk kedalam tubuh melalui kulit. Cacing tambang yang hidup menempel di usus halus menghisap darah si penderita. Gejala yang biasa muncul adalah lesu, pucat, dan anemia berat.

 

  1. Cacing Kremi

Telur cacing ini masuk ke dalam tubuh melalui mulut, lalu bersarang di usus besar. Setelah dewasa, cacing berpindah ke anus. Dalam jumlah banyak, cacing ini bisa menimbulkan gatal-gatal di malam hari. Tidak heran bila si kecil nampak rewel akibat gatal-gatal yang tidak dapat ditahan. Olesi daerah anusnya dengan baby oil dan pisahkan semua peralatan yang bisa menjadi media penyebar, seperti handuk, celana, pakaian.

 

  1. Obat Antelmintik yang Lazim Digunakan

 

a.Obat-Obat Untuk Pengobatan Nematoda

 

Nematoda adalah Cacing ini berukuran kecil (mm) sampai satu meter atau lebih, telur mikroskopis. Contoh anggota nematoda yang parasit pada manusia yakni cacing kremi, cacing pita dan cacing gelang.

 

  1. Piperazin

 

 

Piperazin pertama kali digunakan sebagai antelmintik oleh Fayard

 

(1949). Pengalaman klinik menunjukkan bahwa piperazin efektif sekali

 

 

terhadap A. lumbricoides dan E. Vermicularis. Piperazin juga terdapat sebagai heksahidrat yang mengandung 44% basa. Piperazin dalam bentuk garam sebagai garam sitrat, kalsium edetat dan tartrat. Garam-garam ini bersifat stabil non higroskopis, pemeriannya berupa kristal putih yang sangat larut dalam air, larutannnya bersifat sedikit asam. Piperazin diabsorpsi melalui saluran cerna, dan diekskresi melalui urine.

 

  1. Kerja Antelmintik dan Efek farmakologis

 

Piperazin menyebabkan blokade respon otot cacing terhadap asetilkolin sehinggga terjadi paralisis dan cacing mudah dikeluarkan oleh peristaltik usus. Cacing biasanya keluar 1-3 hari setelah pengobatan dan tidak diperlukan pencahar untuk mengeluarkan cacing itu. Cacing yang telah terkena obat dapat menjadi normal kembali bila ditaruh dalam larutan garam faal pada suhu 37°C. Diduga cara kerja piperazin pada otot cacing dengan mengganggu permeabilitas membran sel terhadap ion-ion yang berperan dalam mempertahankan potensial istirahat, sehingga menyebabkan hiperpolarisasi dan supresi impuls spontan, disertai paralisis. Pada suatu studi yang dilakukan terhadap sukarelawan yang diberi piperazin ternyata dalam urin dan lambungnya ditemukan suatu derivat nitrosamine yakni N-monistrosopiperazine dan arti klinis dari penemuan ini belum diketahui.

 

  1. Farmakokinetik

 

 

Penyerapan piperazin melalui saluran cerna, sangat baik. Sebagian obat yang diserap mengalami metabolisme, sisanya diekskresi melalui urin. Menurut Rogers (1958), tidak ada perbedaan yang berarti antara garam sitrat, fosfat dan adipat dalam kecepatan ekskresinya melalui urin. Tetapi ditemukan variasi yang besar pada kecepatan ekskresi antar individu. Yang diekskresi lewat urin

 

 

sebanyak 20% dan dalam bentuk utuh. Obat yang diekskresi lewat urin ini berlangsung selama 24 jam.

 

  1. Efek nonterapi dan kontraindikasi

 

Piperazin memiliki batas keamanan yang lebar. Pada dosis terapi umumnya tidak menyebabkan efek samping, kecuali terkadang nausea, vomitus, diare, dan alergi. Pemberian secara intravena menyebabkan penurunan tekanan darah selintas. Dosis letal menyebabkan konvulsi dan depresi pernapasan. Pada takar lajak atau pada akumulasi obat karena gangguan faal ginjal dapat terjadi inkoordinasi otot, atau kelemahan otot, vertigo, kesulitan bicara, bingung yang akan hilang setelah pengobatan dihentikan. Piperazin dapat memperkuat efek kejang pada penderita epilepsi. Karena itu piperazin tidak boleh diberikan pada penderita epilepsi dan gangguan hati dan ginjal. Pemberian obat ini pada penderita malnutrisi dan anemia berat, perlu mendapatkan pengawasan ekstra. Karena piperazin menghasilkan nitrosamin, penggunaannya untuk wanita hamil hanya kalau benar-benar perlu atau kalau tak tersedia obat alternatif. Piperazin bersifat teratogenic.

 

  1. Sediaan dan posologi

 

 

Piperazin sitrat tersedia dalam bentuk tablet 250 mg dan sirop 500 mg/ml, sedangkan piperazin tartrat dalam tablet 250 mg dan 500 mg. Dosis dewasa pada askariasis adalah 3,5 g sekali sehari. Dosis pada anak 75 mg/kgBB (maksimum 3,5 g) sekali sehari. Obat diberikan 2 hari berturut-turut. Untuk cacing kremi (enterobiasis) dosis dewasa dan anak adalah 65 mg/kgBB (maksimum 2,5 g) sekali sehari selama 7 hari. Terapi hendaknya diulangi sesudah 1-2 minggu. Berikut sediaan piperazin :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5. Bentuk sediaan dan struktur kimia Piperazin

 

 

  1. Pirantel Pamoat

 

Obat ini efektif untuk cacing gelang, cacing kremi dan cacing tambang. Mekanisme kerjanya menimbulkan depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi imfuls, menghambat enzim kolinesterase. Absorpsi melalui usus tidak baik, ekskresi sebagian besar bersama tinja, <15% lewat urine. Pirantel pamoat sangat efektif terhadap Ascaris, Oxyuris dan Cacing tambang, tetapi tidak efektif terhadap trichiuris. Mekanisme kerjanya berdasarkan perintangan penerusan impuls neuromuskuler, hingga cacing dilumpuhkan untuk kemudian dikeluarkan dari tubuh oleh gerak peristaltik usus. Cacing yang lumpuh akan mudah terbawa keluar bersama tinja. Setelah keluar dari tubuh, cacing akan segera mati Resorpsinya dari usus ringan kira – kira 50% diekskresikan dalam keadaan utuh bersamaan dengan tinja dan lebih kurang 7% dikeluarkan melalui urin. Efek sampingnya cukup ringan yaitu berupa mual, muntah, gangguan saluran cerna dan kadang sakit kepala.

 

Pemakaiannya berupa dosis tunggal, yaitu hanya satu kali diminum.Dosis biasanya dihitung per berat badan (BB), yaitu 10 mg / kgBB. Walaupun demikian, dosis tidak boleh melebihi 1 gr. Sediaan biasanya berupa sirup (250 mg/ml) atau tablet (125 mg /tablet). Bagi

 

 

orang yang mempunyai berat badan 50 kg misalnya, membutuhkan 500 mg pirantel. Jadi jangan heran jika orang tersebut diresepkan 4 tablet pirantel (125 mg) sekali minum.Nama dagang pirantel pamoat yang beredar di Indonesia bermacam-macam, ada Combantrin, Pantrin, Omegpantrin, dan lain-lain (MIMS,1998) . Untuk dosis terhadap cacing kremi dan cacing gelang sekaligus 2-3 tablet dari 250 mg, anak-anak ½ 2 tablet sesuai usia (10mg/kg). Berikut sediaan Pirantel Pamoat :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6. Bentuk dan struktur kimia Pirantel Pamoat.

 

  1. Mebendazol

 

 

Mebendazol merupakan obat cacing yang paling luas spektrumnya. Obat ini tidak larut dalam air, tidak bersifat higroskopis sehingga stabil dalam keadaan terbuka Mebendazol adalah obat cacing yang efektif terhadap cacing Toxocara canis, Toxocara cati, Toxascaris leonina. Trichuris vulpis, Uncinaria stenocephala, Ancylostoma caninum, Taenia pisiformis, Taenia hydatigena, Echinococcus granulosus dan aeniaformis hydatigena. Senyawa ini merupakan turunan benzimidazol, obat ini berefek pada hambatan pemasukan glukosa ke dalam cacing secara ireversibel sehingga terjadi pengosongan glikogen dalam cacing. Mebendazol juga dapat menyebabkan kerusakan struktur subseluler dan menghambat sekresi asetilkolinesterase cacing.

  1. Farmakokinetika

 

 

 

 

Mebendazol tidak larut dalam iar dan rasanya enak. Pada pemberian oral absorbsinya buruk. Obat ini memiliki bioavailabilitas sistemik yang rendah yang disebabkan oleh absorbsinya yang rendah dan mengalami first pass hepatic metabolisme yang cepat. Diekskresikan lewat urin hanya sekitar 2% dari dosis dalam bentuk yang utuh dan metabolit sebagai hasil dekarboksilasi dalam waktu 48 jam. Absorbsi mebendazol akan lebih cepat jika diberikan bersama lemak.

 

 

  1. Efek Nonterapi dan Kontraindikasi

 

 

Mebendazol tidak menyebabkan efek toksik sistemik mungkin karena absorbsinya yang buruk sehingga aman diberikan pada penderita dengan anemia maupun malnutrisi. Efek samping yang kadang-kadang timbul berupa diare, sakit perut ringan yang bersifat sementara, sakit kepala, pusing, reaksi alergi, alopesia, dan depresi sumsum tulang. Dari studi toksikologi obat ini memiliki batas keamanan yang lebar. Tetapi pemberian dosis tunggal sebesar 10 mg/kg BB pada tikus hamil memperlihatkan efek embriotoksik dan teratogenik . berikut sediaan mebendazol :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7. Bentuk sediaan dan struktur kimia Mebendazole

 

 

  1. Interaksi

 

1 Antiepileptics

Fenitoin atau karbamazepin telah dilaporkan dapat menurunkan konsentrasi plasma-mebendazol pada pasien yang menerima dosis tinggi untuk mengobati echinococcosis, mungkin sebagai akibat dari induksi enzim.

 

 

  • Histamin H2-antagonis

Konsentrasi plasma mebendazol dapat meningkat ketika diberikan bersama dengan enzim inhibitor yaitu simetidin.

 

  1. Penggunaan Klinis

 

Mebendazol dapat digunakan dalam mengobati :

 

  • Capillariasis

Mebendazole dengan dosis 200 mg dikonsumsi dua kali sehari selama 20 hari dapat digunakan untuk mengobati capillariasis.

  • Echinococcosis

Mebendazole telah digunakan dalam pengobatan echinococcosis tetapi albendazole lebih disukai. Biasaya dosis mebendazole untuk mengobati cystic echinococcosis yaitu 40-50 mg/kg setiap hari selama least 3- 6 bulan.

Mebendazole telah digunakan dalam pengobatan toxocariasis dan efek samping yang ditimbulkan oleh mebendazole memiliki kejadian yang lebih rendah dari tiabendazole dan dengan dietilkarbamazin.

  • Strongyloidiasis

Mebendazole telah digunakan untuk pengobatan dari strongyloidiasis tetapi perlu diberikan untuk jangka waktu yang lebih lama dari albendazole untuk mengontrol auto-infeksi, sehingga albendazole lebih disukai.

 

 

 

  1. Tiabendazol

 

 

Tiabendazol adalah suatu benzimidazol sintetik yang berbeda, efektif terhadap strongilodiasis yang disebabkan Strongyloides stercoralis (cacing benang), larva migrans pada kulit (atau erupsi menjalar) dan tahap awal trikinosis (disebabkan Trichinella spinalis). Obat ini menganggu agregasi mikrotubular. Meskipun hampir tidak larut dalam air, obat ini mudah diabsorbsi pada pemberian per oral. Obat dihidroksilasi dalam hati dan dikeluarkan dalam urine. Efek samping yang dijumpai ialah pusing, tidak mau makan, mual dan muntah. Terrdapat beberapa laporan tentang gejala

 

 

SSP. kasus lain yang terjadi eritema multiforme dan sindrom Stevens Johnson yang dilaporkan akibat tiabendazol, yang dapat menyebabkan kematian. Berikut sediaan tiabendazol :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8. Bentuk sediaan dan struktur Tiabendendazole.

 

 

 

 

  1. Invermektin

 

 

Invermektin adalah obat pilihan untuk pengobatan onkoserkiasis (buta sungai) disebabkan Onchocerca volvulus dan terbukti pula efektif untuk scabies.

 

  1. Kerja Antelmintik dan Efek farmakologis

 

Ivermektin bekerja pada reseptor GABA (asam ɣ-amionobutirat) parasit. Aliran klorida dipacu keluar dan terjadi hiperpolarisasi, menyebabkan paralisis cacing. Obat diberikan oral. Tidak menembus sawar darah otak dan tidak memberikan efek farmakologik. Namun, tidak boleh diberikan pada pasien meningitis karena sawar tak darah lebih permiabel dan terjadi pengaruh SSP. Ivermektin juga tidak boleh untuk orang hamil. Tidak boleh untuk pasien yang menggunakan benzodiasepin atau barbiturate dan obat yang bekerja pada reseptor GABA. Pembunuhan mikrofilia dapat menyebabkan reaksi seperti

 

 

’’Mozatti’’ (demam, sakit kepala, pusing, somnolen, hipotensi dan sebagainya). Berikut sediaan Ivermektin :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 9. Bentuk sediaan dan struktur kimia Ivermectin.

 

 

  1. Farmakokinetik

 

 

Ivermektin diabsorpsi setelah dosis oral, dengan puncak konsentrasi plasma yang diperoleh setelah sekitar 4 jam. Ivermektin terikat dengan protein plasma sekitar 93% dan memiliki waktu paruh eliminasi sekitar 12 jam. Ivermektin mengalami metabolisme dan diekskresikan sebagian besar sebagai metabolit selama sekitar 2 minggu, terutama di feses, dengan kurang dari 1% diekskresikan melalui urin dan kurang dari 2% melalui ASI.

 

  1. Penggunaan Klinis

 

Ivermektin dapat digunakan dalam mengobati :

 

 

  • Loiasis

Ada penelitian yang menyatakan bahwa terjadi penurunan microfilaraemia setelah pengobatan ivermectin pada pasien dengan loiasis, tetapi ada kekhawatiran berpotensi terjadi neurotoksisitas pada pasien.

 

  • Cutaneous larva migrans.

 

 

Ivermektin menjadi efektif dalam pengobatan cutaneous larva migrans dengan dosis oral 200 mikrogram / kg setiap hari selama 1 2 hari telah direkomendasikan.

 

Ivermektin mempunyai efek microfilaricidal terhadap Onchocerca volvulus dan obat utama yang digunakan dalam mengendalikan onchocerciasis. Sebuah dosis tunggal cepatmenghilangkan mikrofilaria dari kulit, dengan efek maksimum setelah 1 sampai 2 bulan, dan secara bertahap menghilangkan mereka dari kornea dan ruang anterior mata. Ivermektin memiliki sedikit efek pada cacing dewasa tetapi dapat menekan pelepasan mikrofilaria dari cacing dewasa. Dalam pengobatan onchocerciasis, dosis oral tunggal Ivermektin3 sampai 12 mg, berdasarkan sekitar dari 150 mikrogram / kg untuk pasien dengan berat lebih dari 15 kg dan lebih dari 5 tahun, diberikan setahun sekali atau setiap 6 bulan.

 

  • Strongyloidiasis

Ivermektin 200 mikrogram / kg dengan dosis tunggal, atau harian pada dua hari berturut-turut, digunakan untuk pengobatan dari strongyloidiasis.

 

 

 

  1. Albendazole

 

Albendazole adalah antelmintik oral berspektrum luas, yang merupakan obat pilihan dan telah diakui di Amerika Serikat untuk pengobatan penyakit hydatid dan cysticercosis. Obat ini juga merupakan obat utama untuk pengobatan infeksi Pinworm, Ascariasis, Trichuriasis,

 

Strongyloidiasis, dan infeksi-infeksi yang disebabkan oleh kedua spesies cacing tambang (hookworm).

 

 

 

 

 

  1. Kerja Antelmintik dan Efek farmakologis

 

 

Albendazole dan metabolitnya, Albendazole Sulfoxide, diperkirakan bekerja dengan jalan menghambat sintesis mikrotubulus dalam nematoda, dan dengan demikian mengurangi ambilan glukosa secara irreversibel. Akibatnya, parasit-parasit usus dilumpuhkan atau mati perlahan-lahan. Pembersihan mereka dari saluran cerna belum dapat menyeluruh hingga beberapa hari setelah pengobatan. Obat ini juga memiliki efek larvicid (membunuh larva) pada penyakit hydatid, cysticercosis, ascariasis, dan infeksi cacing tambang serta efek ovocid (membunuh telur) pada ascariasis, ancylostomiasis, dan trichuriasis.

 

Albendazole tidak mempunyai efek farmakologis pada manusia. Obat ini (yang bersifat teratogenik dan embriotoksik pada beberapa spesies hewan) tidak diketahui tingkat keamanannya pada wanita hamil. Albendazol kontra indikasi terhadap ibu hamil.

 

  1. Farmakokinetik

 

Absorpsi albendazol kurang baik pada saluran pencernaan namun absorpsi dapat meningkat dengan adanya makanan berlemak.Albendazol secara cepat mengalami first-pass metabolism. Metabolit albendazol sulfoksida memiliki aktivitas antelmintik dan waktu paruh sekitar 8,5 jam. Berikatan dengan protein plasma sebesar 70%. Albendazol sulfoxid dieliminasikan di empedu dan hanya sedikit yang dieksresikan melalui urin.

 

  1. Interaksi

 

  1. Albendazol – Anthelmintik

Konsentrasi plasma albendazol sulfoksida dapat meningkat apabila erinteraksi dengan praziquantel.

 

  1. Albendazol – Kortikosteroid

Konsentrasi plasma dari metabolit aktif albendazol yaitu albendazol sulfoksida dapat meningkat sebanyak 50% apabila berinteraksi dengan dexamethasone.

 

  1. Histamin H2-antagonis

Konsentrasi albendazol sulfoksida ditemukan meningkat di dalam empedu dan cairan kista hydatid (pada penyakit hydatid) saat albendazole diberikan dengan simetidin, yang dapat meningkatkan efektivitas dalam pengobatan echinococcosis.

 

  1. Penggunaan Klinis

 

 

Albendazole diberikan pada saat perut kosong untuk penanganan parasit-parasit intraluminal. Namun untuk penanganan terhadap parasit-parasit jaringan, obat ini harus diberikan bersama dengan makanan berlemak. Digunakan Untuk infeksi-infeksi pinworm, ancylostomiasis, dan ascariasis ringan, necatoriasis, atau trichuriasis, pengobatan untuk orang dewasa dan anak-anak di atas usia 2 tahun adalah dosis tunggal 400 mg secara oral. Untuk infeksi pinworm, dosis harus diulang dalam dua minggu. Tindakan ini menghasilkan tercapainya angka kesembuhan 100% dalam infeksi pinworm dan angka kesembuhan tinggi untuk infeksi-infeksi lain, atau pengurangan besar terhadap jumlah telur bagi yang tidak tersembuhkan. Untuk mencapai angka kesembuhan tinggi dalam ascariasis atau untuk mengurangi jumlah cacing secara memuaskan untuk meringankan necatoriasis atau trichuriasis berat, ulangi pemberian 400 mg/hari dalam 2-3 hari. Beikut gambar albendazol :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 10. Bentuk sediaan dan struktur kimia albendazole

 

 

Albendazol dapat digunakan dalam mengobati :

 

  • Ascariasis

Albendazole digunakan sebagai alternatif untuk menggantikan mebendazol dalam pengobatan ascariasis. Kedua obat tersebut sama-sama sangat efektif dengan tingkat kesembuhan yang lebih besar dari 98% dilaporkan dalam satu stud albendazol.

 

  • Capillariasis

 

 

Albendazole dengan dosis 400 mg setiap hari selama 10 hari telah disarankan sebagai alternatif menggantikan mebendazole untuk pengobatan capillariasis.

 

  • Loiasis

Albendazole telah diteliti untuk mengurangi mikro filariasis pada pasien

 

terinfeksi Loa loa.

  • Mikrosporidiosis

Albendazol telah dicoba dalam pengobatan dari infeksi protozoa mikrosporidiosis pada pasien AIDS. Albendazol juga telah digunakan secara

 

empiris dalam pengobatan terkait infeksi dan komplikasi HIV.

  • Echinococcosis

Dalam pengobatan echinococcosis, albendazole diberikan secara oral dengan makanan dalam dosis 400 mg dua kali sehari selama 28 hari untuk pasien dengan berat lebih dari 60 kg. Dosis 15 mg / kg sehari dalam dua dosis terbagi (untuk maksimal total dosis harian 800 mg) digunakan untuk pasien dengan berat kurang dari 60 kg.

 

 

 

  1. Tribendimidine ( L-type Levamisole dan Pirantel)

 

Tribendimidine termasuk obat antelmintik baru yang dinamakan adalah L-type (levamisole dan Pirantel) dimana bekerja pada reseptor agonis asetilkolin nikotinik. Dalam penelitian dinyatakan bahwa tribendimidine aman dan memiliki aktivitas klinik yang baik terhadap Ascaris dan hookworm. Tribendimidine tidak dapat digunakan sebagai antelmintik dimana pasien telah resisten terhadap levamisol atau pirantel dengan mekanisme aksi yang sama. Namun, pribendimidine dapat produktif untuk digunakan dimana pasien resisten terhadap benzimidazole. Tribendimidine dapat dikombinasi dengan antelmintik yang lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 11. Bentuk sediaan dan stuktur kimia tribendimidine.

 

 

  1. Obat Untuk Pengobatan Trematoda

 

 

Trematoda merupakan cacing pipih berdaun, digolongkan sesuai jaringan yang diinfeksi. Misalnya sebagai cacing isap hati, paru, usus atau darah.

 

  1. Prazikuantel

 

 

Infeksi trematoda umumnya diobati dengan prazikuantel. Obat ini merupakan obat pilihan untuk pengobatan semua bentuk skistosomiasis dan infeksi cestoda seperti sistisercosis. Permeabilitas membrane sel terhadap kalsium meningkat menyebabkan parasite mengalami kontraktur dan paralisis. Prazikuantel mudah diabsorbsi pada pemberian oral dan tersebar sampai ke cairan serebrospinal. Kadar yang tinggi dapat dijumpai dalam empedu. Obat dimetabolisme secara oksidatif dengan sempurna, meyebabkan waktu paruh menjadi pendek. Metabolit tidak aktif dan dikeluarkan melalui urin dan empedu.

Efek samping yang biasa termasuk mengantuk, pusing, lesu, tidak mau makan dan gangguan pencernaan. Obat ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil atau menyusui. Interaksi obat yangterjadi akibat peningkatan metabolisme telah dilaporkan jika diberikan bersamaan deksametason, fenitoin, dan karbamazepin, simetidin yang dikenal menghambat isozim sitokrom P-450, menyebabkan peningkatan kadar

 

 

prazikuantel. Prazikuantel tidak boleh diberikan untuk mengobati sistiserkosis mata karena penghancuran organisme dalam mata dapat merusak mata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 12. Bentuk sediaan dan struktur kimia Prazikuantel

 

 

  1. Obat Untuk Pengobatan Cestoda

 

 

Cestoda atau cacing pita, bertubuh pipih, bersegmen dan melekat pada usus pejamu. Sama dengan trematoda, cacing pita tidak mempunyai mulut dan usus selama siklusnya.

  1. Niklosamid

 

Niklosamid adalah obat pilihan untuk infeksi cestoda (cacing pita)

 

pada umumnya.

 

 

  1. Kerja Antelmintik dan Efek farmakologis

 

 

Kerjanya menghambat fosforilasi anaerob mitokondria parasite terhadap ADP yang menghasilkan energy untuk pembentukan ATP. Obat membunuh skoleks dan segmen cestoda tetapi tidak telur-telurnya. Laksan diberikan sebelum pemberian niklosamid oral. Ini berguna untuk membersihkan usus dari segmen-segmen cacing yang mati agar tidak terjadi digesti dan pelepasan telur yang dapat menjadi sistiserkosisi. Alcohol harus dilarang selama satu hari ketika niklosamid diberikan. Berikut adalah struktur kimia niklasamid :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 13. Struktur kimia Niklosamid

 

 

  1. Farmakokinetik

 

 

Niklosamida tidak signifikan diabsorpsi pada saluran pencernaan.

 

 

  1. Penggunaan Klinis

 

Niklosamida adalah obat cacing yang aktif terhadap kebanyakan cacing pita, termasuk cacing pita daging sapi (Taenia saginata), cacing pita babi (T. solium), cacing pita ikan (Diphyllobothrium latum) dan cacing pita anjing (Dipylidium caninum). Niklosamid juga dapat diberikan untuk infeksi dengan cacing pita kerdil, Hymenolepis nana.

 

Niklosamida diberikan dalam bentuk tablet, yang harus dikunyah secara menyeluruh sebelum menelan dengan air. Untuk infeksi dengan cacing pita babi 2-g dosis tunggal diberikan setelah sarapan ringan. Niklosamida tidak aktif terhadap bentuk larva (cysticerci), pencahar diberikan sekitar 2 jam setelah dosis untuk mengeluarkan cacing yang terbunuh dan meminimalkan kemungkinan migrasi telur T. solium ke dalam perut. Antiemetik juga dapat diberikan sebelum pengobatan. Untuk infeksi cacing pita daging sapi atau ikan dosis 2-g dari niklosamida dapat dibagi, dengan 1 g diminum setelah sarapan dan 1 g satu jam kemudian.Pada infeksi cacing pita kerdil dosis awal 2 g diberikan pada hari pertama diikuti oleh 1 g setiap hari selama 6 hari. Anak-anak berusia

 

 

2 sampai 6 tahun diberikan setengah dosis di atas dan yang di bawah usia

 

2 tahun diberikan seperempat dosis di atas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

 

PENUTUP

 

 

 

 

  1. Kesimpulan

 

Adapun simpulan dari makalah ini Antara lain :

 

  • Infeksi cacing atau biasa disebut dengan penyakit cacingan termasuk dalam infeksi yang di sebabkan oleh parasit. Parasit adalah mahluk kecil yang menyerang tubuh inangnya dengan cara menempelkan diri (baik di luar atau di dalam tubuh) dan mengambil nutrisi daritubuh inangnya.
    1. Jenis-jenis cacing yang dapat menginfeksi adalah :

 

  • Cacing Gelang: (Ascaris lumbricoides)
  • Cacing Cambuk: (Tricuris trichiura)
  • Cacing Tambang: (Necator Americanus Dan Ancylostoma Duodenale)
  • Cacing Kremi: (Enterobius vermicularis)

 

  1. Gejala umum jika terinfeksi cacing adalah timbulnya rasa mual, lemas, hilangnya nafsu makan, rasa sakit di bagian perut, diare, dan turunnya berat badan karena penyerapan nutrisi yang tidak mencukupi dari makanan. Pada infeksi yang lebih lanjut apabila cacing sudah berpindah tempat dari usus ke organlain, sehingga menimbulkan kerusakan organ & jaringan, dapat timbul gejala demam, adanya benjolan di organ/jaringan tersebut, dapat timbul reaksi alergi terhadap larva cacing, infeksi bakteri, kejang atau gejala gangguan syaraf apabila organ otak sudah terkena.
  2. Obat-obat penyakit cacing diantaranya Mebendazol, Tiabendazol, Albendazol, Piperazin, Dietilkarbamazin,Pirantel, Oksantel, Levamisol, Praziquantel ,iklosamida, Ivermektin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Desser SS . Dientamoeba Fragilis. London : School Of Hygiene and Tropical Medicine ; 2007.

Kasim F, Yulia T, Kosasih. ISO Indonesia volume 44. Jakarta : Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia ; 2009.

Katzung BG. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 3. Jakarta : EGC ;1989.

 

Katzung BG. Farmakologi dasar dan klinik. Edisi VIII. Jakarta: Salemba Medika ; 2002.

Mycek MJ, Harvey RA, Champe PC. Farmakologi Ulasan Bergambar. Jakarta :

 

Widya Medika ; 2001.

 

Soedarto. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Jakarta : Sagung Seto ; 2011.

 

Sweetman SC. Martindale    : The Complete Drug Reference. Thirty Sixth Edition.

 

London : The Pharmaceutical Press ; 2009.

 

Tjay TH, Rahardja K. Obat – Obat Penting. Jakarta : Elex Media Komputindo ; 2002.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*